Menurut saya sih, hanya Tuhan yang bisa mengukur level rohani kita. Karena jika kita mengukur atau membanding-bandingkan level rohani kita dengan orang lain, maka secara tidak sadar sebenarnya kita sedang menyombongkan diri dan kita tau bahwa Tuhan tidak menyukai orang yang sombong.
Jadi perlu kehati-hatian
Dalam perumpamaan tentang talenta di Matius 25:14-30, ketiga hamba itu diberikan sesuai kemampuan/kesanggupannya (ability) masing-masing. Yang mengukur kesanggupannya adalah tuan mereka, bukan mereka.
Nah, salah satu hamba yaitu hamba yang mendapat cuma 1 talenta pasti berpikir bahwa dia sanggup menjalankan 5 talenta sehingga dia begitu protes ketika tuannya datang.
Dalam konteks perumpamaan ini, Tuhan sedang berbicara tentang hal kerajaan sorga yang berarti tentang kerohanian kita.
Menurut saya, tuannya marah bukan karena hamba tersebut tidak menggadakan talenta yang diberikan, tapi karena RESPON yang salah dari hamba tersebut (marah, komplain, protes, dll).
Dalam kisah lain, Daud dipuji bahwa dia telah mengalahkan berlaksa-laksa tapi Saul hanya mengalahkan beribu-ribu. (1 Sam 18:7, 1 Sam 21:11 dan 1 Sam 29:5). Bukan cuma dipuji, tapi diakui di depan raja bahwa dia lebih dari Saul.
Tapi apa RESPON Daud? Dia tetap merendahkan hati bahkan berpura-pura gila ketika diakui di depan raja (1 Sam 21:11), dan diakui oleh raja sendiri (1 Sam 29:5)
Respon Daud benar, tapi respon Saul salah. Akhirnya Saul hidup dengan kekuatiran disaingi oleh Daud, sementara Daud sendiri tidak pernah berpikir untuk menyaingi Saul.
Menurut saya, orang yang mengukur-ngukur tingkat rohaninya dengan orang lain, hanya membuang-buang waktu dan selalu mencari "tempat aman". Apalagi jika dia sedang dipimpin oleh orang (yang menurut ukurannya) lebih rendah levelnya.
Satu hal yang saya pelajari, pemimpin kita siapapun dia. Allahlah yang menetapkan dia menjadi pemimpin kita. Jadi kita tidak berhak membanding-bandingkan. Daud saja, ketika diperhadapkan dengan kesempatan untuk membunuh Saul (1 Sam 24:11), dia tidak berani menjamah Saul karena Daud tetap menganggap pemimpimnya sebagai orang yang diurapi Tuhan.
Juga, kembali ke perumpamaan tentang talenta. Perhatikan kalimat dari tuannya setelah hamba yang jahat itu protes:
Maka jawab tuannya itu: Hai kamu, hamba yang jahat dan malas,
jadi kamu sudah tahu, bahwa aku menuai di tempat di mana aku tidak menabur dan memungut dari tempat di mana aku tidak menanam? (Mat 25:26)
Dari sisi lain, tuannya memang mengakui kesalahannya, tapi bukan itu yang menjadi inti permasalahanya, RESPON kita terhadap pemimpin itu yang menjadi masalahnya.
Seandainya hamba yang jahat tersebut diberi lebih banyak talenta (menurut ukurannya sendiri), kemungkinan dia tidak akan protes. Jadi akar/sumber permasalahannya bukan pada berapa banyak talenta maupun kesalahan tuannya, tapi pada RESPON hamba yang jahat itu yang menganggap dirinya (level rohaninya) lebih tinggi dari hamba lainnya. Jadi dia merasa begitu direndahkan dan akhirnya protes besar-besaran.
Jadi kesimpulannya, mari kita melayani dan melakukan yang terbaik. Belajar taat dan setia kepada pemimpin siapapun yang Tuhan ijinkan menjadi pemimpin kita. Dan biarlah Tuhan yang mengukur hidup, dan level rohani kita.