Saya pertama kali mengenal gereja Petra pada tahun 1998, dimana saya sedang mencari gereja yang dapat membuat rohani saya bertumbuh. Saya sudah mendengar bahwa gereja Petra itu baik tapi saya tidak mengetahui dimana gereja tersebut. Akhirnya suatu hari di tahun 1998, bersama 2 orang teman, saya mengikuti ibadah gereja Petra yang waktu itu di Gedung BRI. Puji Tuhan sampai sekarang saya beribadah dan melayani Tuhan di Gereja Petra.
Setiap akhir tahun saya selalu menulis surat permohonan kepada Tuhan dan disetiap akhir tahun berikutnya saya selalu memeriksa permohonan mana yang Tuhan sudah kabulkan dan yang belum Tuhan kabulkan. Melalui cara ini saya selalu mengucap syukur karena saya melihat kebaikan Tuhan kepada saya. Salah satu permohonan saya adalah saya ingin memiliki rumah sendiri karena rumah yang saya tinggali bersama orang tua saya adalah rumah kontrakan. Walaupun kami tidak pernah membayar uang kontrak karena tuan rumah tidak mau menerima uang kami sebab bangunan yang kami tinggali milik kami sedangkan tanahnya milik tuan rumah, sehingga sampai sekarang kami masih menempati rumah tersebut. Akhirnya pada tahun 2007, Tuhan menjawab doa saya dimana majikan saya memberikan sebuah rumah untuk saya cicil tanpa uang muka dan bunga cicilan sehingga saya dapat membayarnya dengan memotong gaji saya setiap bulannya. Saya percaya rumah yang Tuhan sudah berikan kepada saya akan menjadi milik saya walaupun sekarang saya masih mencicilnya.
Tahun 2005 saya menjadi pendoa syafaat dimana sebelumnya saya sudah sangat rindu untuk menjadi seorang pendoa syafaat di pastori, tetapi saya tidak tahu bagaimana caranya. Akhirnya pada tahun 2005, saya diajak oleh teman untuk berdoa di pastori dan saya sangat gembira. Saat saya setia menjadi seorang pendoa syafaat, Tuhan menyembuhkan penyakit burket (ketiak) yang selalu mengeluarkan keringat berlebihan dan membuatku tidak percaya diri. Walaupun saya sudah berobat ke dokter dan sinse (dokter tradisional cina) tapi tetap tidak sembuh. Apalagi kalau sedang stres, maka keringat yang saya keluarkan semakin banyak dan hal ini membuat saya sangat malu saat ditempat kerja, saat pelayanan, dan saat berkumpul dengan teman-teman, namun saya tetap setia melayani Tuhan. Melihat kesetiaanku melayani Tuhan dan senantiasa berdoa, maka tanpa saya sadari Tuhan menyembuhkan penyakit burket saya secara total. Puji Tuhan!!
Wajah saya sangat sensitif dan sering berjerawat, pada Oktober 2009 wajah saya sampai sangat hancur karena timbul jerawat berukuran besar dalam jumlah yang banyak dan bernanah, bahkan wajah saya menjadi bengkak dan tidak simetris lagi, padahal saya sudah berobat ke dokter dan dokter pun bingung melihat jerawat di wajah saya yang tidak kunjung hilang. Hal ini membuat saya malu dan tidak melayani bahkan sempat tidak pergi berdoa di pastori karena rasa malu. Pada saat saya tidak melayani, saya sangat rindu untuk kembali melayani sehingga saya berdoa dan berpuasa selama seminggu agar Tuhan menyembuhkan penyakit jerawatku tapi tidak sembuh-sembuh juga bahkan saya menangis di hadapan Tuhan karena saya sangat rindu melayani Tuhan namun belum sembuh juga walaupun saya sudah berusaha ke dokter. Akhirnya pada akhir Oktober 2009, Tuhan mengingatkan saya untuk kembali ke dokter yang dulu. Puji Tuhan, berkat campur tangan Tuhan akhirnya sehari setelah saya pakai obat dokter tersebut wajahku langsung puliha kembali.
Dalam masalah jerawat ini saya mendapat pelajaran bahwa pada saat kita dalam masalah harusnya kita tidak lari atau meninggalkan pelayanan, malahan kita harus lebih sungguh-sungguh lagi. Waktu Tuhan bukanlah waktu kita, yang maunya kita sekarang harus langsung sembuh tapi kita harus setia menunggu waktu Tuhan dan saya bersyukur dalam masalah ini saya tidak pernah menyalahkan Tuhan sedikitpun. Semoga kesaksian ini bisa memberkati kita semua. Amin!!
Sumber: http://www.petracenter.or.id/kesaksian/engkaulah-jawabanku/